Pidie- Masyarakat di Kabupaten Pidie, Aceh, rutin melaksanakan tradisi Meuleumak saat menyambut Idul Fitri sebagai bentuk penguatan ukhuwah Islamiyah dan silaturahmi antarwarga. Pelestarian adat ini banyak didorong oleh pemuda desa, termasuk di Gampông Blang Tidiek, Kecamatan Mutiara. Kenduri Meuleumak yang digagas pemuda ini melibatkan jamuan makan bersama berupa nasi leumak khas, didanai sebagian dari sumbangan anak muda yang merantau dan sumbangan dari tiap warga gampong tersebut. Dalam pengutipan dana ini, tidak dipatok nominal sama sekali, tetapi diterima seberapa ikhlas dari yang menyumbangkan. Meskipun ada warga yang tidak ikut menyumbangkan dana karena satu dan lain hal, para pemuda tetap akan membagikan hidangan nasi leumak tersebut tanpa pandang bulu.
Kearifan lokal seperti ini menjadi aset sosial berharga bagi masyarakat Aceh, yang patut dijaga keberlangsungannya. Meuleumak sendiri mencerminkan ungkapan syukur atas hari raya besar seperti Lebaran, sekaligus mempererat rasa kebersamaan dan persatuan dalam budaya Aceh. Biasanya, di Gampong Blang Tidiek sendiri diadakan meuleumak setiap lebaran kedua atau ketiga.
Dalam bahasa Aceh, istilah Meuleumak merujuk pada “makan lezat secara bersama”. Khanduri ini populer di wilayah Pidie, Pidie Jaya, dan sekitarnya, dengan tujuan mempertahankan ikatan persaudaraan sesame antar warga. Prosesnya dimulai dengan memasak nasi lemak dalam jumlah besar, ditambah lauk pauk unutk pelengkap yang cukup sederhana seperti daging ayam, ikan tongkol goreng, telur rebus, sayur tumis, sambal pedas, serta kerupuk renyah. Selanjutnya, nasi tersebut dibungkus satu per satu melalui kerja sama gotong royong di area terbuka, biasanya dilakukan di masjid atau meunasah yang ada di gampông tersebut. Bungkusan siap saji ini lalu disebar ke rumah-rumah warga. Setiap keluarga yang menerimanya pun menyantapnya secara bersama, dalam kesederhanaan yang kaya akan nilai-nilai mulia bagi warga Aceh. Sederhana, tapi ini bukan hanya tentang apa yang diberikan, melainkan momentum kebersamaan setelah saling memaafkan dan perwujudan bentuk hidup damai dan rukun antar warga.
Penulis: Shafa Qanitah, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Syiah Kuala
Tidak ada komentar