Suara Mahasiswa Menggema: Jalan Rusak Bertahun-tahun, Pemkab Aceh Utara Dianggap Abai

waktu baca 2 menit
Jumat, 17 Apr 2026 16:24 11 Muhammad Furqan

Aceh, Kamis, 16 April 2026 —Lumbung Informasi Mahasiswa Matangkuli (LIMA) kembali menyampaikan sikap tegas dan kritik terbuka terhadap Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, khususnya kepada Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M., yang akrab disapa Yahwa. Kritik tersebut dilayangkan atas belum adanya langkah nyata dalam menangani kerusakan infrastruktur jalan di wilayah Matangkuli.

Adapun ruas jalan yang menjadi sorotan meliputi:

  1. Jalan lingkungan Kota Matangkuli
  2. Jalan Arakeumudi yang menghubungkan Kota Matangkuli dengan pusat Kabupaten Aceh Utara (Lhoksukon)

Kedua jalan tersebut merupakan akses vital bagi masyarakat dalam menunjang aktivitas ekonomi, pendidikan, dan sosial. Namun hingga kini, kondisinya masih sangat memprihatinkan dan terkesan dibiarkan tanpa kepastian pembangunan.

Ketua LIMA, Faddhal (Agam), menegaskan bahwa persoalan ini bukan lagi sekadar kelalaian administratif, melainkan cerminan kegagalan pemerintah dalam menetapkan prioritas pembangunan.

“Ini bukan persoalan baru. Jalan ini sudah terlalu lama dibiarkan rusak, bahkan hampir lima tahun terakhir tidak pernah ditangani secara serius. Ini bukan lagi soal janji, tetapi soal tanggung jawab yang terus diabaikan. Persoalan ini bahkan sudah lintas generasi tanpa pernah benar-benar diselesaikan,” tegasnya.

Lebih lanjut, LIMA menilai kondisi tersebut menunjukkan lemahnya komitmen Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Pembiaran terhadap infrastruktur yang rusak dinilai sebagai bentuk ketidakpekaan terhadap keselamatan dan kesejahteraan warga.

LIMA secara tegas mendesak Bupati Aceh Utara untuk segera mengambil langkah konkret, terukur, dan transparan dalam merealisasikan pembangunan Jalan Matangkuli.

Dalam pernyataannya, Agam juga menegaskan bahwa kesabaran masyarakat memiliki batas.

“Jika persoalan ini terus diabaikan dan tidak ada tindakan nyata dalam waktu dekat, maka kami akan turun ke jalan. Ini bukan ancaman, melainkan bentuk tanggung jawab moral kami sebagai mahasiswa dan bagian dari masyarakat yang muak dengan janji tanpa realisasi,” ujarnya.

Sebagai bagian dari fungsi kontrol sosial, LIMA menegaskan akan terus mengawal persoalan ini hingga ada kejelasan dan realisasi pembangunan yang benar-benar dirasakan masyarakat.

LIMA juga mengingatkan bahwa kepercayaan publik tidak dibangun melalui retorika semata, melainkan melalui keberpihakan nyata terhadap kebutuhan rakyat. Jika pemerintah daerah terus abai, bukan tidak mungkin gelombang kekecewaan masyarakat akan berkembang menjadi gerakan yang lebih besar.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA